
Vaksin pada hewan anjing yang menggunakan alat pengaman hingga suntik VAR untuk kekebalan pada tubuh, akan sangat bermanfaat bagi para petugas vaksin
VAKSINASI hewan anjing guna mengantisipasi menjalarnya penyakit rabies terhadap hewan peliharaan yang juga berpeluang ditularkan kepada manusia, ternyata sangat beresiko. Pasalnya, vaksinasi dilakukan melalui alat suntik, tanpa ada pelindung tubuh bagi sang vaksinator. Tentu saja ini rentan dengan kecelakaan, jika hewan yang punya mempunyai hobby menggigit itu, bereaksi atas suntikannya. Seperti yang terpantau saat vaksinasi hewan anjing di wilayah Langowan Barat, Rabu (7/10), sejumlah petugas dari Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan, terlihat antusias dalam melakukan vaksinasi di desa Paslaten dan Lowian, dimana ditemukan kasus rabies di wilayah tersebut beberapa waktu lalu. Hanya saja, para petugas yang melakukan vaksinasi dengan menyuntikkan vaksin terhadap hewan anjing tersebut, tak dilengkapi sejumlah alat pelindung tubuh, semisal kaos tangan anti sobek atau tahan atas gigitan anjing, hingga perlindungan dalam kekebalan tubuh dari rabies. Mereka terlihat langsung menyuntikkan alat suntik di bagian tubuh hewan, ketika hewan anjing ini dibujuk sang pemilik terlebih dahulu. "Ini bukannya masalah pengalaman atau tidak, melainkan untuk kemanan mereka (petugas) sendiri. Sebab tak semua anjing hanya akan berteriak kemudian lari saat disuntik, melainkan memberikan perlawanan dengan cara klasik yakni kembali menggigit," ujar Kress Manampiring salah satu pemilik anjing di wilayah tersebut. Ironisnya, beberapa petugas vaksinasi anjing saat diwawancarai, tak bisa apa-apa dengan tugasnya tersebut. "Kami memang cuma dibekali sejumlah alat suntik dan vaksinasi. Dan memang kami memerlukan sejumlah peralatan pelindung tubuh, termasuk disuntik anti rabies atau obat kekebalan tubuh lainnya," ujar beberapa petugas vaksinasi hewan. Sementara itu, Kadis Pertanian Perkebunan dan Peternakan Minahasa, Ir Refli Mambu ketika akan dikonfirmasi melalhi Kabid Peternakan, Ir Frangky Polii, Kamis (8/10) kemarin, tak menenpis jika para petugas vaksinasi hewan ini tidak dilengkapi perlindungan tubuh. "Memang mereka belum dilengkapi dengan peralatan bahkan dengan suntikan kekebalan Vaksin Anti Rabies (VAR)," kata Polii. Namun, Polii menyatakan, pengusulannya sudah beberapa kali dilakukan namun mengingat keuangan daerah, pengusulannya selalu mandek. "VAR itu memang mahal harganya. Dan kemungkinan itu yang menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam mengalokasikannya. Namun ini akan tetap menjadi perhatian kami dan sementara hanya mengingatkan para petugas untuk berhati-hati," ujar Polii. Sedangkan, vaksinasi yang dilakukan Dispertanak Minahasa terus dilakukan disejumlah wilayah yang rentan dengan Rabies, termasuk di wilayah Tombariri. Jumlah kasus ini sendiri mencapai 97 orang, dimana satu diantaranya meninggal dunia, dengan total warga Minahasa yang digigit anjing sebanyak 170 orang. (*/tr)